Ketergantungan Generasi Z pada media digital sebagai sumber informasi keagamaan kerap memicu kerentanan psikologis berupa Sindrom Trauma Keagamaan (RTS) akibat paparan narasi yang kaku, eksklusif, dan berorientasi pada ketakutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk trauma keagamaan pada Generasi Z, memetakan pola konten dakwah siber pemicu trauma, menganalisis kesenjangannya dengan Manhaj Dakwah Nabawi, serta merumuskan strategi pemulihan berbasis spiritual healing. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi literatur dengan menganalisis 53 dokumen artikel jurnal bereputasi nasional dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma keagamaan pada Generasi Z termanifestasi dalam bentuk perasaan berdosa berlebihan dan krisis identitas yang mendorong dekonstruksi iman hingga agnostisisme. Pola konten pemicu trauma ini umumnya mengeksploitasi metode ancaman (tarhib) secara tidak proporsional demi mengejar algoritma engagement, sehingga menciptakan budaya penghakiman moral digital. Realitas siber ini berbanding terbalik dengan metodologi dakwah Rasulullah SAW yang senantiasa mengedepankan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang yang adaptif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi melalui revitalisasi dakwah yang dialogis-interaktif dengan mengintegrasikan psikologi tasawuf guna mengembalikan keseimbangan pendekatan targhib (harapan) dan tarhib (ancaman). Transformasi metodologi dakwah digital yang berlandaskan keluhuran Manhaj Nabawi dan spiritual healing sangat krusial untuk menjadikan ruang siber sebagai wadah pemulihan jiwa yang aman dan inklusif bagi generasi muda
Copyrights © 2026