Dikotomi antara wahyu dan rasionalitas dalam tradisi keilmuan Barat telah mengakar kuat dan menghasilkan fragmentasi epistemologis yang menghambat perkembangan sains Islam kontemporer. Artikel ini menganalisis rekonstruksi epistemologi Islam yang menyatukan wahyu dan rasionalitas dalam sains moderen melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-strategis, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu identifikasi dikotomi wahyu-rasionalitas, rekonstruksi epistemologi integratif, implementasi kurikulum integratif-interkonektif, dan resiliensi epistemologis Islam, penelitian ini memetakan trajektori reunifikasi pengetahuan dalam tradisi Islam. Studi kasus terhadap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UIN Alauddin Makassar mengungkap model integrasi yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi sinkretisme epistemologis, reduksionisme integratif, resistensi ortodoks, dan subordinasi wahyu terhadap rasionalitas, yang mengancam keberlangsungan rekonstruksi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi Islam memerlukan keseimbangan dialektis antara wahyu sebagai sumber pengetahuan transendental dan rasionalitas sebagai instrumen pemahaman empiris, di mana integrasi bukan berarti peleburan melainkan dialog kreatif yang mempertahankan otonomi dan integritas masing-masing sumber pengetahuan.
Copyrights © 2026