Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan identitas gender dan budaya dalam konteks komunikasi lintas budaya melalui tinjauan perspektif Islam. Gender sering kali dipahami sebagai konstruksi sosial yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan, yang dalam perkembangannya sering menimbulkan stereotip dan subordinasi. Dengan menggunakan metode studi pustaka (library research), artikel ini mengeksplorasi bagaimana Islam meletakkan fondasi identitas manusia yang berbasis pada keadilan dan harmoni, bukan persaingan kekuasaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa identitas manusia dibentuk secara dinamis melalui elemen bahasa, agama, dan simbol budaya yang diinternalisasi sejak dini melalui sosialisasi keluarga dan media. Dalam perspektif Islam, konsep kesetaraan ditegaskan melalui nilai Rahmatan lil 'Alamin, di mana perbedaan biologis (seks) tidak menjadi alasan untuk membatasi hak asasi dan potensi kemanusiaan di ruang publik. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi nilai keadilan relasional Islam sebagai filter etika komunikasi dalam menghadapi tantangan identitas hibrid di era digital. Implikasi praktisnya memberikan panduan bagi institusi keluarga muslim untuk menerapkan pola komunikasi yang setara dan inklusif guna menangkal stereotip gender global sejak dini. Artikel ini menyimpulkan bahwa di era globalisasi, negosiasi antara budaya lokal dan nilai universal Islam mampu membentuk identitas hibrid yang adaptif namun tetap memuliakan martabat manusia.
Copyrights © 2026