Penelitian ini mengkaji budaya populer sebagai bentuk propaganda politik digital dalam kampanye Prabowo Subianto di TikTok pada Pemilu 2024 melalui perspektif Teori Kritis Herbert Marcuse. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin intensifnya pemanfaatan media sosial dan budaya populer dalam komunikasi politik kontemporer, di mana pesan politik semakin dikemas dalam bentuk konten hiburan yang menarik perhatian publik. Penelitian bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya populer dimanfaatkan dalam kampanye politik serta pengaruhnya terhadap pembentukan persepsi politik masyarakat di ruang digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan dokumentasi terhadap konten kampanye yang diunggah di TikTok, meliputi video, caption, simbol visual, musik, serta interaksi pengguna. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diinterpretasikan melalui konsep culture industry, false needs, one-dimensional thought, dan repressive tolerance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye Prabowo Subianto secara strategis memanfaatkan unsur-unsur budaya populer seperti tren viral, meme, musik, dan citra “Prabowo Gemoy” untuk meningkatkan keterlibatan audiens dan penyebaran pesan politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya populer berfungsi sebagai instrumen propaganda politik digital yang efektif dalam membentuk persepsi politik masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan yang lebih bersifat simbolik dan emosional dibandingkan pertimbangan politik yang substantif.
Copyrights © 2026