Penelitian ini menganalisis diferensiasi agraria dan kerja upahan dalam perkembangan perkebunan sawit di Desa Celuak, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah. Sawit tidak ditempatkan sebagai komoditas pertanian semata, namun sebagai sistem produksi yang mengatur akses warga terhadap lahan, modal, program pemerintah, pasar, dan kesempatan kerja. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perluasan sawit didorong oleh persepsi pendapatan yang lebih rutin, dukungan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), kemitraan kelembagaan, serta melemahnya daya tarik lada akibat biaya produksi dan pemadatan harga. Namun, keuntungan sawit tidak terdistribusi secara setara. Warga yang memiliki lahan memperoleh akses terhadap hasil Tandan Buah Segar (TBS), program bantuan, dan jaringan pemasaran, sedangkan warga tanpa lahan lebih banyak terlibat sebagai buruh harian dalam pembersihan lahan, pemupukan, pemanenan, pengangkutan TBS, dan perawatan kebun. Perbedaan tersebut menunjukkan terbentuknya diferensiasi agraria berbasis kepemilikan lahan dan akses kelembagaan. Temuan utama artikel ini menegaskan bahwa sawit di Desa Celuak menciptakan peluang ekonomi sekaligus memperdalam ketimpangan pedesaan karena sebagian warga mengakses nilai produksi melalui aset, sedangkan sebagian lainnya hanya melalui penjualan tenaga kerja.
Copyrights © 2026