Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLITIK EKOWISATA: STRATEGI RENCANA PENGEMBANGAN WISATA PESISIR DI KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) PANTAI TIMUR SUNGAILIAT Risky Ananda Putri
T JDP (JURNAL DINAMIKA PEMERINTAHAN) Vol 5 No 1 (2022): January
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jdp.v5i1.2253

Abstract

Bangka Island is known as a tin-producing area, especially in Bangka Regency. Tin, which is known as black diamond, if exploited continuously, leaves environmental damage and changes in the landscape. Not only tin resources, other potentials are found in the beauty of ecotourism. The Bangka Regency Government supported by PT. Sungailiat East Coast (private sector) compiles a planning strategy for the development of Tourism SEZs on the Sungailiat East Coast which is contained in one of the regional development missions to change the direction of community income from mining to tourism actors. This research method is carried out qualitatively through in-depth interviews and documentation of local regulations. The results of this study indicate that the tourism SEZ planning strategy on the Sungailiat East Coast is in the planning stage. However, such planning can be described as “half-hearted” planning. This condition is caused by the local government and PT. Sungailiat East Coast did not examine in depth the Mining Business Permits (IUP) located in sea and land waters which are close to the SEZ planning location. In addition, unconventional tin (TI) “flooded” the Sungailiat East Sea. As a result, coastal areas are affected by abrasion due to the actions of tin miners. Then the point of the planning location is next to critical land, and there is no community intervention in the planning activities of the Sungailiat SEZ which is carried out in the ecotourism corridor.
Diferensiasi Agraria Dan Kerja Upahan Pada Perkebunan Sawit Di Desa Celuak Kabupaten Bangka Tengah Eci Mareta; Aisyah Putri Salsabila; Risky Ananda Putri
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1141

Abstract

Penelitian ini menganalisis diferensiasi agraria dan kerja upahan dalam perkembangan perkebunan sawit di Desa Celuak, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah. Sawit tidak ditempatkan sebagai komoditas pertanian semata, namun sebagai sistem produksi yang mengatur akses warga terhadap lahan, modal, program pemerintah, pasar, dan kesempatan kerja. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perluasan sawit didorong oleh persepsi pendapatan yang lebih rutin, dukungan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), kemitraan kelembagaan, serta melemahnya daya tarik lada akibat biaya produksi dan pemadatan harga. Namun, keuntungan sawit tidak terdistribusi secara setara. Warga yang memiliki lahan memperoleh akses terhadap hasil Tandan Buah Segar (TBS), program bantuan, dan jaringan pemasaran, sedangkan warga tanpa lahan lebih banyak terlibat sebagai buruh harian dalam pembersihan lahan, pemupukan, pemanenan, pengangkutan TBS, dan perawatan kebun. Perbedaan tersebut menunjukkan terbentuknya diferensiasi agraria berbasis kepemilikan lahan dan akses kelembagaan. Temuan utama artikel ini menegaskan bahwa sawit di Desa Celuak menciptakan peluang ekonomi sekaligus memperdalam ketimpangan pedesaan karena sebagian warga mengakses nilai produksi melalui aset, sedangkan sebagian lainnya hanya melalui penjualan tenaga kerja.