Penelitian ini mengkaji praktik hegemoni dalam cerpen Mata Celurit karya Muna Masyari dengan menggunakan kerangka teori Antonio Gramsci. Cerpen ini mengangkat realitas politik lokal masyarakat Madura melalui kisah perebutan kekuasaan dalam pemilihan kepala desa (kalebun), di mana kecurangan, intimidasi, dan konflik kepentingan mewarnai dinamika komunal yang kompleks. Analisis difokuskan pada tiga dimensi utama: bentuk-bentuk hegemoni yang hadir dalam teks, mekanisme kekuasaan yang beroperasi melalui tradisi, relasi patronase, dan simbolisme budaya, serta dampaknya terhadap tokoh-tokoh cerita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-interpretatif dengan teknik analisis tekstual dan hermeneutis. Hasil kajian menunjukkan bahwa hegemoni dalam cerpen ini bersifat berlapis: mencakup hegemoni politik lokal yang memanfaatkan simbol celurit sebagai alat legitimasi kekuasaan, hegemoni patriarki yang mengaitkan maskulinitas dengan dominasi dalam ruang publik desa, serta hegemoni nilai kehormatan komunal yang berfungsi sebagai sistem kontrol sosial. Kekuasaan dalam cerpen ini tidak bekerja semata melalui paksaan fisik, melainkan justru lebih dominan melalui persetujuan yang dikonstruksi secara kultural, melalui internalisasi nilai, tekanan komunitas, dan relasi patronase yang membuat dominasi tampak sah dan alamiah. Dampaknya pada tokoh-tokoh adalah kepatuhan yang ambivalen, konflik batin yang tersembunyi, serta benih-benih counter-hegemony yang mulai berkecambah namun belum cukup kuat untuk menggeser tatanan yang ada. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra lokal Madura adalah arena pertarungan ideologis yang kaya dan layak dikaji secara kritis melalui pendekatan teori sosial.
Copyrights © 2026