Kolonialisme tidak hanya menghasilkan dominasi politik dan ekonomi, tetapi juga membentuk identitas yang kompleks pada subjek yang hidup dalam perjumpaan antara budaya kolonis dan terjajah. Salah satu kelompok yang mengalami kondisi tersebut adalah masyarakat Indo yang menempati posisi ambigu dalam struktur sosial kolonial Hindia Belanda. Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk-bentuk ambivalensi kolonial dan menjelaskan bagaimana ambivalensi tersebut melahirkan krisis identitas tokoh Indo dalam novela Mencari Sima di Hindia Belanda karya Angelina Enny. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan poskolonial Homi K. Bhabha. Sumber data penelitian berupa novela Mencari Sima di Hindia Belanda, sedangkan data berupa narasi, dialog, monolog, dan deskripsi tokoh yang merepresentasikan ambivalensi kolonial dan krisis identitas. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambivalensi kolonial tokoh Ernest Agerbeek direpresentasikan melalui keterputusan identitas, posisi sosial yang ambigu, pewarisan privilese kolonial, dan keterasingan dari akar budaya pribumi. Ambivalensi tersebut melahirkan krisis identitas yang ditandai oleh kesadaran terhadap asal-usul pribumi, konflik historis dan kultural, serta pencarian figur ibu. Penelitian ini menemukan bahwa ambivalensi kolonial menjadi prasyarat munculnya krisis identitas. Melalui negosiasi identitas dalam third space, Ernest membangun identitas baru sebagai subjek pascakolonial yang hibrid. Temuan ini memperkaya kajian poskolonial mengenai representasi identitas Indo dalam sastra Indonesia berlatar kolonial.
Copyrights © 2026