Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Literatur Penggunaan Media Gambar Berseri dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siswa Huliya Dewi; Andi Hidayatullah; Laili Amalia
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1211

Abstract

Kemampuan menulis cerita pendek merupakan salah satu keterampilan literasi yang penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, namun masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide, menyusun alur, serta menghasilkan tulisan yang kohesif dan koheren. Media gambar berseri sebagai media pembelajaran visual dinilai mampu memberikan stimulus konkret yang membantu siswa mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai efektivitas penggunaan media gambar berseri dalam meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur melalui penelusuran artikel ilmiah yang relevan dari basis data Google Scholar, Garuda, dan jurnal nasional terakreditasi, kemudian dianalisis melalui proses identifikasi, seleksi, evaluasi, sintesis, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa media gambar berseri terbukti efektif meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek siswa, ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan klasikal yang signifikan. Media ini juga berkontribusi terhadap pengembangan ide, kreativitas, serta kohesi dan koherensi cerita, sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa. Keberhasilan penggunaan media gambar berseri dipengaruhi oleh kompetensi guru dalam mengintegrasikan media dengan strategi pembelajaran yang tepat, kualitas media yang digunakan, karakteristik dan jenjang kelas siswa, serta pendekatan pedagogis yang menyertainya. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa media gambar berseri merupakan media pembelajaran visual yang efektif dan relevan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek siswa, namun penggunaannya perlu dipadukan dengan strategi pedagogis yang sesuai agar hasil pembelajaran menjadi lebih optimal dan komprehensif.
Ambivalensi Kolonial dan Krisis Identitas Tokoh Indo dalam Novela Mencari Sima di Hindia Belanda Karya Angelina Enny: Kajian Poskolonial Affan Maulidi Rahamatullah; Andi Hidayatullah; Nadia Fitri; Mofidatul Hasanah Fida; Moh Wadut; Masri'ah Nimas
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1472

Abstract

Kolonialisme tidak hanya menghasilkan dominasi politik dan ekonomi, tetapi juga membentuk identitas yang kompleks pada subjek yang hidup dalam perjumpaan antara budaya kolonis dan terjajah. Salah satu kelompok yang mengalami kondisi tersebut adalah masyarakat Indo yang menempati posisi ambigu dalam struktur sosial kolonial Hindia Belanda. Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk-bentuk ambivalensi kolonial dan menjelaskan bagaimana ambivalensi tersebut melahirkan krisis identitas tokoh Indo dalam novela Mencari Sima di Hindia Belanda karya Angelina Enny. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan poskolonial Homi K. Bhabha. Sumber data penelitian berupa novela Mencari Sima di Hindia Belanda, sedangkan data berupa narasi, dialog, monolog, dan deskripsi tokoh yang merepresentasikan ambivalensi kolonial dan krisis identitas. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambivalensi kolonial tokoh Ernest Agerbeek direpresentasikan melalui keterputusan identitas, posisi sosial yang ambigu, pewarisan privilese kolonial, dan keterasingan dari akar budaya pribumi. Ambivalensi tersebut melahirkan krisis identitas yang ditandai oleh kesadaran terhadap asal-usul pribumi, konflik historis dan kultural, serta pencarian figur ibu. Penelitian ini menemukan bahwa ambivalensi kolonial menjadi prasyarat munculnya krisis identitas. Melalui negosiasi identitas dalam third space, Ernest membangun identitas baru sebagai subjek pascakolonial yang hibrid. Temuan ini memperkaya kajian poskolonial mengenai representasi identitas Indo dalam sastra Indonesia berlatar kolonial.