Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan media sosial, khususnya TikTok, dalam membentuk preferensi politik sebagai pemilih pemula melalui studi pada figur Eri Cahyadi dan Dedi Mulyadi. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana paparan konten, pola komunikasi digital, kedekatan emosional, interaktivitas, dan representasi figur politik di TikTok memengaruhi kecenderungan penilaian politik generasi muda. Penyusunan penelitian ini berdasarkan data yang memuat perbandingan performa akun, karakter konten, strategi komunikasi politik kedua tokoh, serta perbedaan engagement yang signifikan di platform TikTok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi dokumentasi dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TikTok berfungsi tidak hanya sebagai saluran distribusi informasi politik, tetapi juga sebagai medium pembentukan persepsi, afeksi, dan preferensi politik pemilih pemula. Konten Dedi Mulyadi yang dominan pada storytelling emosional, kedekatan budaya, dan narasi personal tampak lebih kuat dalam membentuk identifikasi politik audiens muda, sedangkan konten Eri Cahyadi yang cenderung informatif dan berbasis layanan publik lebih menonjol dalam membangun persepsi kompetensi dan kinerja pemerintahan. Temuan penelitian menegaskan bahwa preferensi politik pemilih pemula di media sosial lebih mudah terbentuk melalui kombinasi intensitas paparan, otentisitas figur, interaktivitas, dan narasi yang sederhana serta emosional. Dalam konteks ini, TikTok dapat dipahami sebagai arena penting dalam demokrasi digital yang memengaruhi orientasi politik generasi muda, terutama pada tahap awal pembentukan sikap politik.
Copyrights © 2026