Emotional eating merupakan kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi negatif, bukan oleh rasa lapar fisiologis, dan diduga berkontribusi terhadap perubahan status gizi, terutama pada kelompok usia dewasa muda yang terpapar arus digitalisasi secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan emotional eating dengan status gizi pada mahasiswa di era digital tahun 2026. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Deztron Indonesia, Kota Medan, pada bulan Maret–Mei 2026, dengan sampel sebanyak 35 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data emotional eating dikumpulkan menggunakan kuesioner Dutch Eating Behaviour Questionnaire (DEBQ) subskala emotional eating, sedangkan status gizi ditentukan melalui pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan yang dikonversi menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square/Rank Spearman, serta analisis lanjutan (regresi logistik sederhana). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki kebiasaan emotional eating kategori tinggi dan mengalami status gizi lebih (overweight/obesitas). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kebiasaan emotional eating dengan status gizi mahasiswa (p<0,05). Kesimpulannya, semakin tinggi kecenderungan emotional eating, semakin besar risiko status gizi lebih pada mahasiswa. Diperlukan program edukasi gizi dan manajemen stres berbasis digital untuk mencegah perilaku makan maladaptif pada mahasiswa.
Copyrights © 2026