Penelitian bertujuan mengkaji pelemahan nilai tukar rupiah Indonesia di tenganh ketidakpastian ekonomi global yang tinggi pada tahun 2026. Dengan menggunakan metode studi literatur sistematis, penelitian ini mensintesis temuan dari jurnal akademik terkini, laporan resmi Bank Indonesia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan sumber berita terpercaya yang diterbitkan antara tahun 2024 hingga 2026. Penelitian mengidentifikasi tiga faktor utama pelemahan Rupiah: (1) penguatan berkelanjutan Dolar AS akibat kebijakan moneter The Federal Reserve; (2) eskalasi ketegangan geopolitik khususnya di Timur Tengah; dan (3) tekanan fiskal domestik akibat pelebaran defisit anggaran dan arus keluar modal menyusul revisi outlook negatif oleh Moody's dan Fitch. Rupiah mencapai titik terendah sepanjang sejarah sebesar Rp18.045 per USD pada Juni 2026, terdepresiasi sekitar 6,63% secara year-to-date. Bedasarkan data diatas hasil penelitian ini menunjukkan dampak utama meliputi inflasi impor, peningkatan beban utang berdenominasi asing, penurunan daya saing industri bergantung impor, dan merosotnya daya beli masyarakat. Bank Indonesia merespons dengan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, mengintensifkan intervensi pasar valuta asing melalui transaksi spot dan Non-Deliverable Forward (NDF), serta menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Dapat disimpulkan bahwa stabilisasi nilai tukar yang efektif membutuhkan koordinasi kebijakan moneterfiskal yang solid didukung reformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap Dolar AS. memiliki keterbatasan pada sifat dinamis fenomena yang dikaji, mengingat kondisi nilai tukar dan kebijakan terkait dapat berubah dengan cepat seiring perkembangan situasi ekonomi global maupun domestik.
Copyrights © 2026