Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan organisasi, namun sekaligus memunculkan dilema etis bagi pemimpin dalam menjaga keseimbangan antara rekomendasi algoritmik dan nilai-nilai humanistik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana pemimpin generasi milenial menyeimbangkan penggunaan AI dengan intuisi personal dalam pengambilan keputusan strategis serta mengidentifikasi strategi etis yang digunakan untuk menghadapi ketegangan antara logika algoritma dan nilai kemanusiaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologis melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang merupakan pemimpin pada organisasi berbasis teknologi di Indonesia. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan praktik kepemimpinan dalam pemanfaatan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin memandang AI sebagai alat pendukung keputusan, bukan sebagai penentu akhir. Pemimpin mengembangkan strategi berupa refleksi moral, konsultasi kolektif, integrasi rekomendasi AI dengan intuisi kepemimpinan, serta penguatan literasi etika digital guna menjaga akuntabilitas dan nilai kemanusiaan dalam proses pengambilan keputusan. Budaya organisasi yang partisipatif dan inklusif turut memperkuat praktik kepemimpinan yang adaptif. Penelitian ini mengusulkan model kepemimpinan humanistik adaptif sebagai kerangka konseptual dalam mengintegrasikan AI secara etis, sekaligus memberikan implikasi bagi penyusunan kebijakan organisasi dan pengembangan kepemimpinan berbasis teknologi yang tetap berorientasi pada nilai, empati, dan tanggung jawab moral.
Copyrights © 2026