Luka merupakan kerusakan pada jaringan yang dapat disebabkan oleh berbagai trauma fisik seperti sayatan, sobekan, ataupun tusukan. Pada proses penyembuhan luka, Reactive Oxygen Species (ROS) mengambil peran penting. Ketidakseimbangan antara ROS dan antioksidan dapat menghambat proses penyembuhan yang terjadi. Salah satu upaya dalam meminimalisir efek merugikan ROS adalah dengan antioksidan. Beberapa kandungan antioksidan seperti flavonoid, tanin, saponin, serta fenolik diketahui memiliki peran penting dalam proses penyembuhan luka, salah satu tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah senduduk. Senduduk atau yang dikenal juga sebagai Karamunting (Melastoma malabathricum) merupakan perdu yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, khususnya oleh Suku Dayak Desa untuk menyembuhkan luka dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia dan mengevaluasi kapasitas antioksidan ekstrak metanol daun senduduk. Uji kapasitas antioksidan dilakukan dengan metode 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), sedangkan analisis profil fitokimia dilakukan secara kualitatif. Hasil analisis profil fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun senduduk mengandung senyawa metabolit sekunder seperti: alkaloid, antosianin, kardio glikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, steroid, terpenoid, dan tanin. Pengujian kapasitas antioksidan mendapatkan nilai IC50 sebesar 87,03 µg/mL, yang termasuk dalam kategori antioksidan kuat. Penelitian ini menunjukkan sifat antioksidan kuat yang dimiliki daun senduduk serta potensinya sebagai bahan alami dalam pengembangan antioksidan berbasis herbal.
Copyrights © 2026