Papua memiliki sumber daya lokal yang dapat menjadi peran strategis bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam). Akan tetapi, BUMKam banyak mengalami kendala dalam penurunan produktivitas lokal dan disfungsi kelembagaan. Berbagai kendala seperti aktivitas operasional, sistem tata kelola keuangan, dan strategi pemulihan dan pengembangan BUMKam Tuaca di Kampung Kayo Batu dianalisis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang diintegrasikan dengan pengumpulan data kualitatif, meliputi observasi lapangan, audit keuangan terstruktur, dan wawancara pemangku kepentingan. Tata kelola BUMKam Tuaca yang mengalami krisis tetap dialami, meskipun sudah memperoleh legalitas hukum melalui Peraturan Kampung No. 3 Tahun 2023 dan Sertifikat AHU-04191.AH.01.33 Tahun 2023. Struktur kepengurusan terus berkurang hingga menyisakan direktur ketua yang bertugas tanpa adanya Surat Kepengurusan (SK) secara resmi. Direktur utama BUMKam terpaksa menggunakan dana pribadinya untuk menalangi biaya operasional sebesar Rp7.500.000 yang diakibatkan oleh pembekuan pencairan dana APBK dan ketidaksesuaian pelaporan keuangan sesuai standar SAK EMKM. Kendala semakin meningkat ketika aset biologis mudah terkena sabotase oleh orang tidak dikenal dan gagal menyesuaikan diri pada lingkungan sekitarnya. Untuk menangani kendala-kendala tersebut, dilakukan rancangan perbaikan komprehensif melalui penguatan kelembagaan, pelaporan keuangan sesuai SAK EMKM, penataan ulang melalui Business Model Canvas (BMC), dan pemetaan unit usaha yang menggabungkan sektor perikanan, pariwisata bahari, dan kerajinan tanah liat atau tembikar.
Copyrights © 2026