Fenomena quarter-life crisis pada Generasi Z ditandai oleh kecemasan yang berorientasi pada hasil, krisis identitas dan perasaan tidak nyaman yang diperparah oleh komaparasi media sosial. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk merumuskan kerangka epistemologis “Qur’ani Growth Mindset” sebagai solusi kognitif dan spiritual. Penelitian kualitatif berbasis library research ini menerapkan kerangka hermeneutika Ma’nā-cum-Maghā dari Sahiron Syamsuddin untuk menganalisis QS. An-Najm/53:39-42. Kerangka analisis meliputi tiga pilar: al-ma’na al-tārīkhī (makna sejarah asli), al-maghzā al-tārīkhī (signifikansi sejarah) dan al-maghzā al-mutaharrik al-mu’āsir (signifikansi kontemporer). Hasil analisis menunjukkan bahwa al-ma’na al-tārīkhī dan al-maghzā al-tārīkhī dalam ayat ini berfungsi meruntuhkan fatalisme pesimis Arab pra Islam dengan menegakkan tanggung jawab moral individual dan apresiasi berbasis proses (sa’y). Secara bersamaan, al-maghzā al-mutaharrik al-mu’āsir mengintegrasikan teori growth mindset oleh Carol S. Dweck dengan teologi Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, Qur’ani growth mindset mengubah orientasi Generasi Z dari kecemasan hasil menuju penilaian berbasis proses (saufu yurā), memberikan fondasi agensi yang melawan fixed mindset insecurity (mā sa’ā), serta membangun resiliensi emosional melalui kepasrahan bertauhid (ilā rabbikal-muntahā). Penelitian ini memberikan kontribusi kebaruan berupa integrasi interdisipliner antara hermeneutika Al-Qur’an dan psikologi kognitif dalam menghadapi tantangan kesehatan mental Generasi Z.
Copyrights © 2024