Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ideologi perlawanan perempuan dalam dua novel karya Dian Purnomo, yaitu Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam (PMBH) dan Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut (PMLL), serta mengajarkannya dengan pembelajaran sastra berbasis literasi kritis di sekolah. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pisau analisis Semiotika Kritis Roland Barthes, penelitian ini membedah mitos-mitos sosial dan hubungan kekuasaan yang tersembunyi di balik teks. Hasil penelitian menunjukkan betapa luasnya ranah konflik yang progresif dari kedua novel. Pada novel PMBH, perlawanan perempuan fokus pada ranah domestik-kultural untuk melawan tradisi kawin tangkap dan komodifikasi gender melalui mahar demi merebut kekuasaan atas tubuhnya. Sementara pada novel PMLL, perlawanan meluas ke ranah publik dan sosio-ekologis. Tokoh perempuan dengan kritis menentang ekspansi perusahaan tambang dan aturan hukum yang memihak pengusaha melalui aksi strategi unik di wilayah perairan. Temuan ini berimplikasi penting dalam pembelajaran sastra di kelas melalui pendekatan literasi kritis. Novel kedua ini sangat relevan digunakan sebagai bahan terbuka untuk melatih siswa menginterogasi ketimpangan gender, menganalisis ketidakadilan sosial-lingkungan, serta menumbuhkan empati dan keberanian moral di dunia nyata.
Copyrights © 2026