Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi militer Amerika Serikat melalui penggunaan sandi bahasa Navajo pada Perang Dunia II di kawasan Pasifik serta relevansinya bagi penguatan sistem komunikasi pertahanan Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus historis. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, analisis dokumen historis, memoar Navajo Code Talkers, dan sumber arsip militer yang dianalisis secara tematik melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sandi Navajo memberikan keunggulan strategis bagi Amerika Serikat karena mampu menjaga kerahasiaan pesan, mempercepat transmisi informasi, dan mendukung efektivitas Command and Control dalam operasi militer. Keunggulan tersebut berkontribusi pada keberhasilan operasi Amerika Serikat di Teater Pasifik, termasuk Guadalcanal, Saipan, Iwo Jima, dan Okinawa. Penelitian ini juga menemukan bahwa prinsip penggunaan bahasa lokal sebagai lapisan keamanan komunikasi memiliki relevansi konseptual bagi Indonesia yang memiliki keragaman linguistik sangat tinggi. Namun, penerapannya tidak dapat dilakukan secara langsung, melainkan harus dikembangkan secara hati-hati sebagai model komunikasi pertahanan berlapis yang memadukan keamanan digital, resiliensi komunikasi, dan kearifan lokal. Artikel ini menawarkan konsep Hybrid Crypto-Linguistic Defense Communication sebagai kerangka awal untuk mengintegrasikan potensi linguistik lokal dengan kebutuhan komunikasi pertahanan modern.
Copyrights © 2026