Penelitian ini mengkaji stratifikasi sosial masyarakat Yerusalem pada periode kritis 1174–1185, yaitu masa pemerintahan Raja Balduinus IV yang bertepatan dengan kebangkitan kekuasaan Salahuddin al-Ayyubi dan menjelang kejatuhan kota pada tahun 1187. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis, penelitian merekonstruksi struktur hierarkis Kerajaan Latin Yerusalem berdasarkan analisis sumber primer — meliputi kronik William dari Tirus, catatan Ibn al-Qalanisi, piagam kerajaan, surat resmi Paus Alexander III, serta basis data dokumen Tentara Salib — dan diperkuat dengan historiografi mutakhir karya Riley-Smith, Prawer, Boas, Gutgarts, Nader, serta Holt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Yerusalem terbagi secara kaku dalam tiga lapisan yang tidak setara: (1) bangsawan dan ksatria Frank sebagai penguasa yang memegang monopoli atas tanah, kekuasaan politik, dan militer; (2) kelas burgess perkotaan dari kalangan imigran dan pedagang Eropa yang mengelola perdagangan dengan hak hukum terbatas; serta (3) penduduk asli non-Latin yang terdiri dari Kristen Timur, Muslim, dan Yahudi sebagai mayoritas penduduk yang hidup dengan hak properti, akses ekonomi, dan perlindungan hukum yang sangat terbatas. Penelitian ini membuktikan bahwa dominasi elit Frank menciptakan ketimpangan sistemik yang melemahkan kohesi sosial; kerja sama sementara melalui institusi keagamaan dan aktivitas perdagangan hanya menyatukan kalangan Latin, sementara penduduk asli tetap dikucilkan. Ketidakadilan sosial ini, yang diperburuk oleh persaingan internal antarfaksi bangsawan dan pengepungan kekuatan Salahuddin, menjadikan kerajaan sangat rentan dan merupakan salah satu faktor kunci yang mempercepat kekalahan di Hattin serta kejatuhan Yerusalem pada tahun 1187. Temuan ini menegaskan relevansi dinamika sosial Yerusalem abad ke-12 bagi studi kontemporer mengenai konflik multietnis, stratifikasi kolonial, dan ketahanan negara di tengah keberagaman masyarakat.
Copyrights © 2026