Pengendalian mutu merupakan instrumen strategis dalam pengembangan agroindustri pangan karena berkaitan langsung dengan kepuasan konsumen, efisiensi biaya, dan keberlanjutan pasar. Komoditas pangan memiliki sifat mudah rusak, sehingga memerlukan penanganan terintegrasi dari hulu ke hilir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengendalian mutu pada berbagai rantai produksi pangan lokal, mengidentifikasi titik kritis rekayasa proses, serta merumuskan rekomendasi perbaikan berbasis Total Quality Management (TQM). Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka kualitatif deskriptif terhadap draf publikasi penelitian nasional dan materi pendukung manajemen mutu terpadu. Data dikumpulkan secara sistematis dan dianalisis melalui pendekatan deskriptif komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa titik kritis hulu berpusat pada konsistensi pasokan bahan baku komoditas (Nurlaela, 2020), yang jika diabaikan akan memicu pembengkakan biaya akibat pengerjaan ulang (rework) dan pemborosan kapasitas mesin (Nurlaela dkk., 2024). Pada tahapan proses, intervensi teknologi seperti penggunaan oven mampu menstabilkan karakteristik fisikokimia tepung cabai rawit merah (Nurlaela dkk., 2023), sementara aplikasi asap cair dan kitosan efektif menekan kontaminasi mikroba pada produk bakso sapi tanpa merusak citra rasa asli (Nurlaela dkk., 2022). Dari perspektif green industry, limbah kulit buah kakao terbukti memiliki nilai tambah tinggi melalui ekstraksi selulosa (Nurlaela dan Mellya, 2021). Kesimpulannya, pengadopsian karakteristik TQM seperti keterlibatan aktif kerja tim dan kontrol berbasis data sangat krusial untuk mengeliminasi biaya cacat produksi dan membangun budaya mutu pangan berdaya saing global.
Copyrights © 2026