Konsumsi makanan hasil olahan industri intensif atau Ultra-Processed Food (UPF) meningkat pesat seiring urbanisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk di Indonesia. Produk UPF umumnya rendah serat serta tinggi gula, garam, lemak, dan bahan tambahan pangan sintetis seperti pengemulsi, sehingga diduga berkontribusi terhadap berbagai gangguan saluran cerna. Kajian ini bertujuan menelaah kebiasaan konsumsi UPF, mekanisme biologisnya terhadap saluran cerna, jenis gangguan pencernaan yang ditimbulkan, serta strategi pencegahan dan pengendaliannya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan menelaah artikel jurnal nasional dan internasional dari basis data Google Scholar, PubMed, dan Scopus. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsumsi UPF berhubungan dengan peningkatan risiko refluks gastroesofageal, dispepsia, kembung, konstipasi, sindrom iritasi usus besar, penyakit radang usus, hingga kanker kolorektal, melalui mekanisme disbiosis mikrobiota usus, gangguan sawar usus, inflamasi kronis, dan gangguan motilitas saluran cerna. Pencegahan memerlukan pengurangan konsumsi UPF secara bertahap, peningkatan asupan pangan segar dan serat, edukasi gizi berjenjang, serta dukungan kebijakan pangan seperti pelabelan gizi. Kajian ini memberikan kontribusi berupa peta konseptual yang mengaitkan kebiasaan konsumsi UPF dengan gangguan saluran cerna secara sistematis, yang dapat menjadi dasar edukasi gizi dan kebijakan kesehatan masyarakat.
Copyrights © 2026