Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi duka individu yang mengalami kehilangan anggota keluarga dan mengekspresikan kesedihan melalui mediamengeksplorasiĀ sosial, khususnya Instagram. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis dan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini pengalaman hidup lima informan yang secara aktif menggunakan ruang digital sebagai sarana coping emosional. Temuan menunjukkan bahwa praktik berkabung digital tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekspresi, tetapi juga sebagai mekanisme untuk mempertahankan ikatan berkelanjutan dengan almarhum, sesuai dengan Continuing Bonds Theory. Media sosial memfasilitasi pengelolaan memori, penataan ulang relasi simbolik, serta penciptaan ruang reflektif bagi individu yang berduka. Namun, penelitian ini juga mengungkap ambivalensi ruang digital, di mana dukungan empatik sering kali bersifat dangkal dan diatur oleh norma sosial mengenai bagaimana kesedihan seharusnya dikomunikasikan. Dalam konteks budaya kolektivis, duka dipahami sebagai proses relasional yang tidak linear, sarat negosiasi makna, dan dipengaruhi oleh nilai keluarga serta ekspektasi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi duka digital merupakan praktik sosial-budaya yang kompleks, bukan sekadar fenomena teknologi.
Copyrights © 2026