Transformasi digital mendorong penerapan sistem kerja asinkron yang mengubah pola interaksi kerja dan kehidupan pribadi, khususnya bagi Generasi Z sebagai digital native. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana perilaku individu Generasi Z memaknai work-life integration dalam konteks kerja asinkron serta mengidentifikasi tantangan dan strategi adaptasinya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif dengan pendekatan systematic literature review terhadap 30 artikel ilmiah relevan periode 2021–2026, yang dianalisis secara deskriptif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memaknai work-life integration sebagai integrasi dinamis antara peran kerja dan personal yang didukung fleksibilitas waktu dan otonomi kerja. Namun, fleksibilitas tersebut juga memunculkan risiko berupa kaburnya batas kerja-pribadi, tekanan konektivitas berkelanjutan, serta peningkatan kelelahan mental. Temuan utama menegaskan bahwa efektivitas work-life integration ditentukan oleh keseimbangan antara kemampuan regulasi diri individu dan kejelasan kebijakan organisasi. Strategi adaptasi yang dominan meliputi penetapan batas kerja, pemanfaatan teknologi secara terarah, serta praktik pemulihan untuk menjaga kesejahteraan. Kesimpulannya, kerja asinkron tidak hanya meningkatkan fleksibilitas, tetapi juga menuntut pengelolaan perilaku dan sistem kerja yang terstruktur agar produktivitas dan kesejahteraan dapat terjaga secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026