Keterbatasan wawasan aparatur mengenai manajemen niaga menghambat optimalisasi program Satu Desa Satu Sarjana dalam mendongkrak ekonomi lokal. Pengabdian ini bertujuan membangun kesadaran institusional mengenai urgensi pendidikan manajemen ritel serta merumuskan sinergi bersama sarjana pendamping. Metode yang digunakan adalah sosialisasi partisipatif yang dikombinasikan dengan sesi diskusi tanya jawab. Mitra pengabdian melibatkan 20 orang yang terdiri dari perangkat desa, pengelola BUMDes, dan kader pemberdayaan di Kecamatan Citeureup. Evaluasi program dilakukan secara deskriptif melalui pengamatan keterlibatan aktif audiens serta analisis kualitatif terhadap perubahan persepsi peserta. Hasil pengabdian menunjukkan terjadinya pergeseran paradigma yang fundamental, aparatur desa kini mengonfirmasi pentingnya literasi niaga modern dan menyepakati komitmen bersama untuk memajukan kegiatan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program daerah yang semula dianggap beban administratif guna program sarjana satu desa berhasil diubah menjadi peningkatan SDM di wilayah Kecamatan Citeureup dengan mempelajari manajemen ritel, sehingga menjadi aset strategis untuk menggerakkan unit usaha desa, sekaligus meningkatkan kesiapan birokrasi dalam menyerap keilmuan ritel terapan guna mendongkrak nilai ekonomis pedesaan.
Copyrights © 2026