Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki kerentanan tinggi terhadap kekerasan seksual, namun upaya perlindungan sering kali terhambat oleh stigma sosiokultural serta keterbatasan kapasitas teknis dan psikologis orang tua dalam memberikan pendidikan seksual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan manajemen pemberdayaan orang tua melalui edukasi pendidikan seksual guna meningkatkan kapasitas pelindungan diri pada ABK. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi berhasil mendekonstruksi stigma tabu dan meningkatkan kesadaran kognitif orang tua secara signifikan mengenai urgensi otonomi tubuh. Namun, hasil evaluasi juga mengonfirmasi adanya kesenjangan nyata antara pengetahuan teoretis dan keterampilan praktik, di mana mayoritas orang tua masih kesulitan mengomunikasikan batasan area tubuh kepada anak karena keterbatasan metode pengajaran. Sebagai kesimpulan, pendampingan lanjutan dan sinergi lintas sektoral sangat krusial untuk membekali orang tua dengan keterampilan pedagogis yang adaptif, mencegah isolasi sosial, serta membangun resiliensi komunal dalam memproteksi ABK dari ancaman kekerasan seksual.
Copyrights © 2026