Resistensi antimikroba (AMR) merupakan ancaman kesehatan global yang dipicu oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Di Indonesia, apotek berperan sentral dalam distribusi antibiotik, namun seringkali tanpa diiringi pemahaman masyarakat yang memadai. Narrative review ini bertujuan untuk menyatukan temuan penelitian terkini (2023–2025) tentang tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai penggunaan antibiotik, faktor yang memengaruhinya, hubungannya dengan perilaku, serta efektivitas intervensi edukasi. Hasil tinjauan terhadap sepuluh artikel menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat masih bervariasi dari kurang hingga cukup, dengan kelemahan utama pada aspek durasi terapi, penyimpanan, dan pembuangan obat. Faktor pendidikan, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan. Meskipun edukasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan, ditemukan adanya kesenjangan (knowledge-action gap) antara pengetahuan dengan perilaku nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan perilaku memerlukan lebih dari sekadar penyampaian informasi. Implikasi penting bagi apoteker adalah perlunya memperkuat peran sebagai edukator aktif, menerapkan prinsip DAGUSIBU secara konsisten, menolak penjualan antibiotik tanpa resep dengan pendekatan edukatif, serta mengembangkan materi komunikasi yang kontekstual. Sinergi antara kompetensi apoteker, edukasi berkelanjutan, dan dukungan regulasi diperlukan untuk mentransformasi apotek menjadi pusat promotif kesehatan dalam upaya menekan laju AMR di tingkat komunitas
Copyrights © 2026