Edukasi kesehatan reproduksi di sekolah sering kali tidak berjalan optimal karena adanya hambatan psikososial yang memengaruhi bagaimana remaja menerima dan menginternalisasi informasi tersebut.. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman subjektif, dinamika psikologis internal, serta hambatan sosial—seperti rasa tabu, malu, dan pengaruh mitos teman sebaya—yang mendistorsi penerimaan edukasi kesehatan reproduksi di kalangan siswa SMK Kesehatan Bima Sehat. Studi ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui teknik observasi terstruktur dan non-partisipan serta wawancara terstruktur kepada informan kunci. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, dengan triangulasi sumber, teknik, dan waktu untuk menjamin validitas temuan. Hasil temuan menunjukkan bahwa rasa canggung, malu, dan stigma tabu mendorong remaja menarik diri dari kelas formal yang kaku dan beralih mencari informasi mandiri melalui ruang digital (AI dan internet) serta menjadikan teman sebaya sebagai validator utama informasi. Berdasarkan Health Belief Model, transformasi pengetahuan menjadi tindakan nyata tidak berjalan linear; hambatan sosial dan rendahnya persepsi kerentanan diri membuat materi hanya menjadi hafalan kognitif, sementara persepsi keparahan risiko dan manfaat tindakan (seperti consent) efektif membangun sikap preventif yang riil.
Copyrights © 2026