Keterlibatan ayah dalam gizi anak penting untuk mencegah stunting pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), namun pembagian peran gender kaku di Kelurahan Nungga, Kota Bima, masih menjadi penghambat. Penelitian kualitatif studi kasus ini bertujuan mengeksplorasi keterlibatan ayah, hambatan budaya, serta dinamika keputusan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi pada para ayah dan ibu yang dipilih secara purposive dan snowball sampling, lalu dianalisis melalui reduksi, penyajian data, serta triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan meski berpendidikan tinggi dan berusia produktif, pemahaman gizi ayah masih sekunder dari istri. Keterlibatan ayah terhambat persepsi Posyandu sebagai ruang perempuan (gendered space), norma adat patriarki Bima (Mbojo), jam kerja panjang, kurang percaya diri, serta pembatasan dari ibu (maternal gatekeeping). Kendati demikian, edukasi langsung dari tenaga kesehatan terbukti efektif meluruskan miskonsepsi MPASI dini. Penelitian ini menyimpulkan perlunya layanan kesehatan yang ramah laki-laki serta edukasi budaya untuk meningkatkan peran aktif ayah.
Copyrights © 2026