Banjir merupakan salah satu risiko bencana yang berulang kali dihadapi Kota Padang, dipengaruhi oleh kombinasi intensitas curah hujan, kepadatan populasi, histori kejadian banjir, dan elevasi wilayah pada 104 kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan. Penelitian ini bertujuan menerapkan algoritma K-Means untuk mengelompokkan kelurahan di Kota Padang berdasarkan tingkat risiko banjir, sekaligus membangun sistem berbasis web bernama SIPEKAT sebagai alat bantu pemetaan dan pengambilan keputusan. Data dihimpun dari empat sumber, yaitu curah hujan dari BMKG Stasiun Teluk Bayur, data kependudukan dari Disdukcapil, histori banjir dari BNPB, dan data elevasi dari dataset geospasial. Seluruh atribut dibersihkan dan dinormalisasi menggunakan metode Min-Max sebelum diproses dengan K-Means. Proses klasterisasi diinisialisasi dari tiga kelurahan representatif sebagai centroid awal dan konvergen pada iterasi kelima, menghasilkan tiga klaster dengan 19, 80, dan 5 anggota kelurahan. Setiap klaster diberi label berdasarkan skor risiko dari rata-rata histori banjir dan elevasi, menghasilkan kategori Risiko Tinggi (19 kelurahan), Risiko Sedang (80 kelurahan), dan Risiko Rendah (5 kelurahan). Hasil clustering divalidasi menggunakan RapidMiner dan menunjukkan kesesuaian dengan perhitungan sistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan mekanisme pelabelan klaster berbasis skor risiko yang menggabungkan histori kejadian banjir dan elevasi wilayah untuk menghasilkan interpretasi tingkat risiko yang lebih objektif, serta implementasinya ke dalam sistem informasi berbasis web SIPEKAT. Penelitian ini membuktikan bahwa K-Means efektif digunakan untuk mengelompokkan wilayah rawan banjir dan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam memprioritaskan mitigasi bencana banjir.
Copyrights © 2026