Pengelolaan persediaan logistik kamar obat merupakan aspek penting dalam mendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pengendalian persediaan yang tidak optimal dapat menyebabkan kekurangan stok (stock out) maupun kelebihan stok (overstock) yang berdampak pada efektivitas pelayanan dan efisiensi biaya. Salah satu metode yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian persediaan adalah Turn Over Ratio (TOR), yaitu indikator yang menggambarkan tingkat perputaran persediaan obat dalam periode tertentu. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian persediaan logistik kamar obat menggunakan metode TOR di RS X. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif yang didukung data kuantitatif. Sampel penelitian berupa data persediaan dan pemakaian obat periode April 2025–April 2026 serta lima informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Nilai TOR dihitung dengan membandingkan jumlah pemakaian obat terhadap rata-rata persediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metformin memiliki nilai TOR tertinggi sebesar 12,22 kali per tahun, diikuti Sukralfat sebesar 10,55 kali per tahun, dan Mefinal sebesar 8 kali per tahun. Sementara itu, Asam Mefenamat (1,2), Cetirizin (6,4), Candesartan (5,18), dan Ondansetron (3,69) memiliki nilai TOR di bawah standar sehingga menunjukkan perputaran persediaan yang lambat dan potensi penumpukan stok. Disimpulkan bahwa pengendalian persediaan logistik kamar obat di RS X belum sepenuhnya optimal. Evaluasi TOR secara berkala, peningkatan akurasi perencanaan kebutuhan, serta penguatan monitoring persediaan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan logistik dan menjamin ketersediaan obat.
Copyrights © 2026