Penelitian ini dilakukan dengan metode literature review, yang mengidentifikasi, menilai dan menginterpretasi seluruh temuan pada topik penelitian melalui PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian artikel jurnal dibatasi antara tahun 2020 dan 2025 melalui 6 database, yaitu Elsevier, Scholar, ISJD, PLOS, Portal Garuda, dan PubMed. Dari 41 artikel jurnal didapatkan 9 artikel yang cocok dengan kata kunci penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, pada periode bulan JanuariāAgustus 2025, di mana terjadi kondisi cuaca panas ekstrem. Data sekunder didapat dari Klinik Bidan Nunung dan data primer dari 5 orang informan. Kesimpulan penelitian adalah, pertama, paparan panas ekstrem terbukti meningkatkan risiko preeklampsia melalui mekanisme dehidrasi, stres oksidatif dan vasokonstriksi. Kedua, ibu hamil cenderung menganggap gejala awal akibat cuaca panas ekstrem, yaitu pusing/lemas, bukan sebagai tanda bahaya bagi kesehatan janin dan ibu hamil. Ketiga, karakteristik iklim tropis panas sepanjang tahun berinteraksi secara negatif dengan faktor sosial ekonomi, terutama bagi ibu hamil yang bekerja di sektor informal seperti petani dan pedagang. Keempat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim masih terbatas, seperti ruang tunggu pasien yang panas dan ventilasi yang buruk. Saran: Pertama, bagi ibu hamil yang bekerja di luar ruangan agar memodifikasi pola kerja, menerapkan istirahat pendek berkala dan menghindari paparan langsung matahari pada jam puncak (11:00-15:00 WIB). Kedua, keluarga dan ibu hamil mengenali tanda-tanda bahaya preeklampsia yang dipicu cuaca panas. Ketiga, pembenahan sarana pelayanan kesehatan ibu hamil seperti ruangan yang sejuk dan nyaman.
Copyrights © 2026