Taruli Rohana Sinaga
Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LITERATURE REVIEW : DAMPAK CUACA PANAS EKTREM (HEATWAVE) DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA PADA IBU HAMIL Misykah Khairani; S. Otniel Ketaren; Mido Ester J. Sitorus; Taruli Rohana Sinaga; Donal Nababan
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.61970

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan metode literature review, yang mengidentifikasi, menilai dan menginterpretasi seluruh temuan pada topik penelitian melalui PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian artikel jurnal dibatasi antara tahun 2020 dan 2025 melalui 6 database, yaitu Elsevier, Scholar, ISJD, PLOS, Portal Garuda, dan PubMed. Dari 41 artikel jurnal didapatkan 9 artikel yang cocok dengan kata kunci penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, pada periode bulan Januari–Agustus 2025, di mana terjadi kondisi cuaca panas ekstrem. Data sekunder didapat dari Klinik Bidan Nunung dan data primer dari 5 orang informan. Kesimpulan penelitian adalah, pertama, paparan panas ekstrem terbukti meningkatkan risiko preeklampsia melalui mekanisme dehidrasi, stres oksidatif dan vasokonstriksi. Kedua, ibu hamil cenderung menganggap gejala awal akibat cuaca panas ekstrem, yaitu pusing/lemas, bukan sebagai tanda bahaya bagi kesehatan janin dan ibu hamil. Ketiga, karakteristik iklim tropis panas sepanjang tahun berinteraksi secara negatif dengan faktor sosial ekonomi, terutama bagi ibu hamil yang bekerja di sektor informal seperti petani dan pedagang. Keempat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim masih terbatas, seperti ruang tunggu pasien yang panas dan ventilasi yang buruk. Saran: Pertama, bagi ibu hamil yang bekerja di luar ruangan agar memodifikasi pola kerja, menerapkan istirahat pendek berkala dan menghindari paparan langsung matahari pada jam puncak (11:00-15:00 WIB). Kedua, keluarga dan ibu hamil mengenali tanda-tanda bahaya preeklampsia yang dipicu cuaca panas. Ketiga, pembenahan sarana pelayanan kesehatan ibu hamil seperti ruangan yang sejuk dan nyaman.
DETERMINAN STUNTING PADA BADUTA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS LAHEWA KABUPATEN NIAS UTARA TAHUN 2026 Witha Krisna Natalis Zebua; Donal Nababan; Taruli Rohana Sinaga; Indra Utama; Adiansyah Adiansyah
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.62777

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kejadian stunting pada baduta di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lahewa Kabupaten Nias Utara tahun 2026. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki baduta sebanyak 443 orang, dengan sampel 191 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (84,8%), pola asuh baik (80,1%), akses sanitasi baik (88,0%), sosial ekonomi tinggi (82,7%), dan memberikan ASI eksklusif (89,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, pola asuh, sosial ekonomi, akses sanitasi, dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada baduta (p<0,05). Kejadian stunting pada baduta dipengaruhi oleh faktor pengetahuan ibu, pola asuh, kondisi sosial ekonomi, akses sanitasi, dan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi terpadu melalui peningkatan edukasi gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, serta penguatan program ASI eksklusif untuk menurunkan prevalensi stunting.