Disrupsi digital di Perguruan Tinggi memicu maraknya prokrastinasi akademik dan budaya instan yang mengikis ketahanan belajar mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran sa‘yu dalam Surah An-Najm [53]: 39–42, dan memetakan implementasinya pada mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir angkatan 2022 Institut Agama Islam Al Hidayah Bogor, serta mengidentifikasi bentuk keselarasan maupun ketegangannya di lapangan. Metode kualitatif-lapangan dengan pendekatan Living Qur'an digunakan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan, observasi harian, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran sa‘yu berkembang dari pertanggungjawaban ukhrawi klasik menuju gerakan aksi nyata dan penghargaan proses ilmiah modern. Meskipun mahasiswa memahami penulisan skripsi sebagai bentuk ibadah, dalam praktiknya terjadi ketegangan berupa penundaan pengerjaan, kepasrahan fatalistik keliru, dan ketergantungan teknologi digital. Dinamika ini memetakan mahasiswa ke dalam tiga tipologi, yaitu idealis-konsisten, religius-normatif, dan pragmatis-adaptif. Kesimpulannya, pemahaman keagamaan secara kognitif tidak otomatis memicu kedisiplinan praktis, melainkan dipengaruhi regulasi diri dan ketahanan mental pembelajar. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan studi melalui pendekatan komparatif antarprogram studi serta memanfaatkan pengujian berbasis intervensi longitudinal untuk memitigasi budaya instan di perguruan tinggi.
Copyrights © 2026