Tebu (Saccharum officinarum) merupakan komoditas perkebunan strategis penopang industri gula nasional. Namun, potensi budidaya tebu di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, belum tergarap optimal dan belum tercatat lengkap dalam statistik resmi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hasil eksplorasi lapangan dan wawancara terkait praktik budidaya tebu petani di Kecamatan Kubung pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Eksplorasi dilakukan di delapan nagari untuk memetakan keberadaan tanaman tebu, sedangkan wawancara terstruktur dilakukan pada 26 responden petani. Hasil eksplorasi mengidentifikasi 32 sampel tebu pada 26 titik koordinat di ketinggian 382–644 mdpl. Hasil wawancara menunjukkan budidaya tebu masih tergolong konvensional: mayoritas petani memperoleh bibit dari tukar-menukar antarpetani (96,15%), mengelola lahan sempit 250 m2 (96,15%), tidak melakukan pemupukan rutin (61,54%), dan tidak menerapkan sistem irigasi (96,15%). Meskipun tingkat serangan hama dan penyakit relatif rendah (84,62%) tidak ada serangan, adopsi teknologi modern belum ditemukan sama sekali (100%). Secara keseluruhan, ketergantungan pada praktik tradisional menjadi hambatan utama pengembangan tebu di Kecamatan Kubung. Intervensi kebijakan berupa penyediaan bibit unggul bersertifikat, edukasi manajemen pemupukan dan irigasi, serta perbaikan akses pasar sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan kesejahteraan petani setempat.
Copyrights © 2026