Faith, love, and communion in the Gospel of John are frequently interpreted as separate theological themes, leaving their integrated role in Christian life transformation insufficiently explained. This study aims to formulate a Christ-centred integrative model of life transformation. It employs qualitative library research and combines hermeneutical-theological, lexical-syntactical, narrative, and socio-historical analyses. John 1:12, 3:16, and 5:24 are examined to explain believing, receiving eternal life, and the formation of a new identity. John 13:34–35 and 15:9–17 are analysed to identify love as the mark of discipleship and public witness. John 15:1–8 and 17:20–26 are examined to understand abiding in Christ, fruitfulness, and communal unity. The findings demonstrate that faith constitutes an active response through which believers receive eternal life and a new identity as children of God. Communion with Christ sustains this relationship through the word, obedience, and fruitfulness, while love becomes its communal manifestation. These dimensions form a unified movement of transformation that is Christ-centred, relational, communal, and ongoing. This model provides a theological foundation for integrating faith formation, spiritual communion, loving service, and social witness within the contemporary Church.AbstrakPembacaan mengenai iman, kasih, dan persekutuan dalam Injil Yohanes masih sering dilakukan secara terpisah, sehingga hubungan ketiganya sebagai dasar transformasi hidup belum tergambarkan secara utuh. Penelitian ini bertujuan merumuskan model integratif transformasi hidup yang berpusat pada Kristus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis hermeneutik-teologis, leksikal-sintaktis, naratif, dan sosial-historis. Yohanes 1:12, 3:16, dan 5:24 dianalisis untuk menjelaskan tindakan percaya, penerimaan hidup kekal, serta pembentukan identitas baru. Yohanes 13:34–35 dan 15:9–17 digunakan untuk mengkaji kasih sebagai tanda kemuridan dan kesaksian publik. Yohanes 15:1–8 dan 17:20–26 dianalisis untuk memahami makna tinggal di dalam Kristus, keberbuahan, dan kesatuan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman menjadi respons aktif yang membawa manusia kepada hidup kekal dan identitas sebagai anak-anak Allah. Persekutuan dengan Kristus memelihara keberlangsungan relasi melalui firman, ketaatan, dan keberbuahan. Kasih menjadi manifestasi komunal dari kehidupan yang telah diperbarui. Ketiga dimensi tersebut membentuk satu gerak transformasi yang kristosentris, relasional, komunal, dan berkelanjutan. Model ini memberikan dasar teologis bagi gereja untuk mengintegrasikan pembinaan iman, spiritualitas persekutuan, pelayanan kasih, dan kesaksian sosial.
Copyrights © 2026