Kota Cirebon menempati peringkat ketiga Most Livable City Index (MLCI) IAP 2022, dengan indikator fasilitas pejalan kaki meraih nilai tertinggi secara nasional (79) yang sepenuhnya bersumber dari survei persepsi warga kotanya, bukan pengukuran fisik lapangan. Kesenjangan antara kepuasan persepsional dan kondisi fisik aktual lazim ditemukan dalam kajian walkability perkotaan sehingga perlu diuji secara empiris. Penelitian ini menilai kelayakan fisik fasilitas pejalan kaki di Kawasan Strategis Kota (KSK) Gunung Sari–Cipto, kawasan perdagangan dan jasa yang ditetapkan RTRW Kota Cirebon, menggunakan Global Walkability Index (GWI). Pendekatan kuantitatif deskriptif diterapkan melalui observasi fisik langsung pada empat ruas jalan (3.543,79 meter, sepuluh segmen berinterval 400 meter), dinilai pada sembilan parameter GWI berbobot dan diagregasi menggunakan pembobotan panjang ruas. Hasil menunjukkan Nilai GWI Kawasan sebesar 65,98, berkategori "Waiting to Walk", dengan satu ruas, yaitu Jl. Tentara Pelajar, jatuh pada kategori "Not Walkable" (47,75), sementara Jl. RA. Kartini memperoleh nilai tertinggi (84,00). Fasilitas penyeberangan pejalan kaki konsisten menjadi parameter terlemah di seluruh ruas, mengindikasikan persoalan yang bersifat sistemik, bukan sekadar defisiensi lokal. Temuan ini mengungkap kesenjangan yang signifikan antara klaim persepsional MLCI dan kondisi fisik terukur, menegaskan bahwa pemeringkatan berbasis persepsi tidak serta-merta mencerminkan kualitas infrastruktur pejalan kaki aktual pada skala kawasan
Copyrights © 2026