Industri Food and Beverage (F&B) di Indonesia mengalami persaingan ketat, diperparah oleh tantangan struktural seperti fluktuasi harga bahan baku impor dan tantangan penyesuaian selera pasar terhadap produk otentik Korea. Dalam konteks ini, SeoulDap hadir dengan inovasi produk Gimbap Fusion Korea-Indonesia untuk mengatasi dilema otentisitas dan biaya. Dengan memadukan isian lokal seperti rendang atau ayam bumbu taichan, SeoulDap mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor yang mahal, memaksimalkan penggunaan bahan lokal yang lebih stabil, sekaligus memperluas pasar dengan meruntuhkan penghalang rasa. Masalah utama yang dihadapi adalah efisiensi biaya produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis model bisnis SeoulDap sebagai studi kasus terperinci tentang bagaimana inovasi produk dapat menjadi penggerak utama efisiensi biaya dan keunggulan kompetitif. Metode yang digunakan adalah analisis food cost sebagai tolok ukur efisiensi biaya dan decision making berupa make or buy untuk bahan danmuji. Hasil perhitungan make or buy menunjukkan bahwa memproduksi sendiri 1 kg danmuji hanya memerlukan biaya Rp 26.800, jauh lebih efisien dibandingkan membelinya seharga Rp 73.000 ditambah ongkos kirim Rp 8.000 (total Rp 81.000), yang berarti biaya per porsi danmuji dapat ditekan lebih dari 2 kali lipat dari Rp 1.460 menjadi Rp 536. Keputusan yang diambil adalah make (membuat sendiri). Berdasarkan perhitungan food cost, Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk varian produk utama SeoulDap berkisar antara Rp 9.200 (Gimbab crabstick) hingga Rp 13.444 (Gimbab Ayam Taichan Komplit). Dengan menargetkan margin laba sebesar 68%, keuntungan kotor yang dihasilkan dari setiap produk yang terjual adalah 2,125 kali lipat dari HPP. Kesimpulannya, inovasi produk fusion dan pendekatan make or buy secara signifikan telah menekan biaya produksi, yang pada akhirnya menjadi kunci bagi SeoulDap untuk mencapai laba yang tinggi dan keunggulan bersaing di pasar F&B.
Copyrights © 2026