Penelitian ini mengkaji kepemimpinan Abdullah bin Rawahah dalam Perang Mu’tah. Tema ini dianggap penting, karena meski Abdullah bin Rawahah memiliki peran dalam sejarah awal Islam, penelitian mengenai sosoknya masih terbatas di Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan biografi singkat Abdullah bin Rawahah, latar belakang terjadinya Perang Mu’tah, serta kepemimpinan Abdullah bin Rawahah dalam Perang Mu’tah. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dengan memanfaatkan tiga sumber primer utama, yaitu Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, kitab Al-Maghazi karya Al-Waqidi. dan kitab Tarikh al-Rusul wal Muluk karya Al-Tabari. Penelitian ini menggunakan teori kepemimpinan karismatik dari Max Weber sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu sahabat Rasulullah saw. yang pandai baca-tulis dan bersyair, serta sering dipercaya dalam berbagai tugas penting, seperti terlibat dalam berbagai peperangan. Perang Mu’tah menjadi perang terakhir yang diikutinya, karena ia mati syahid dalam perang ini. Perang Mu'tah dilatarbelakangi oleh terbunuhnya utusan Rasulullah saw., Al-Harits bin 'Umair Al-Azdi, serta peristiwa lainnya, sehingga Rasulullah saw. mengerahkan 3.000 pasukan menghadapi 200.000 prajurit Romawi di bawah tiga panglima, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Melalui analisis teori kepemimpinan karismatik dari Max Weber, kepemimpinan Abdullah bin Rawahah menunjukkan corak kepemimpinan yang bersumber dari kualitas pribadi, kemunculannya di tengah situasi krisis, serta pembuktian nyata hingga mati syahid, meskipun otoritasnya berawal dari penunjukan oleh Rasulullah saw. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan karismatik dapat bertransformasi dari otoritas lain, sehingga memperkaya kajian mengenai model kepemimpinan dalam sejarah awal Islam.
Copyrights © 2026