Al Yasini: Jurnal Keislaman, Sosial, Hukum dan Pendidikan
Vol 11 No 5 (2026)

ANALISIS SEMANTIK KATA GHULĀMUN ḤALĪM DAN GHULĀMUN ‘ALĪM DALAM SURAH AṢ-ṢĀFFĀT AYAT 101 DAN SURAH AL-ḤIJR AYAT 53

Vierza Andrea Efindra (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh)
Muhammad Zaini (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh)
Emi Suhaimi (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh)



Article Info

Publish Date
16 Aug 2026

Abstract

Abstract: This study examines the semantic distinction between the words ḥalīm and ‘alīm in the expressions ghulāmun ḥalīm (Quran 37:101) and ghulāmun ‘alīm (Qur’an 15:53) using Toshihiko Izutsu’s Qur’anic semantic approach. The study addresses the question of why the Quran employs two different attributes when announcing the birth of the sons of Prophet Abraham. This research is qualitative library research. The analysis covers lexical meaning, historical semantics (pre-Qur’anic, Qur’anic, and post-Qur’anic periods), relational meaning (syntagmatic and paradigmatic), and the reconstruction of the Qur’anic weltanschauung. The findings reveal that ḥalīm denotes self-restraint, maturity of intellect, and steadfastness in facing trials, whereas ‘alīm emphasizes comprehensive knowledge, profound understanding of reality, and wisdom in judgment. Historical semantic analysis indicates that the Qur’an preserved the original meanings of both terms while reorienting them within a monotheistic worldview. Relational analysis further demonstrates that ḥalīm is conceptually associated with ṣabr and ghafūr, whereas ‘alīm is closely related to ḥakīm and khabīr. These findings suggest that the different descriptions of Prophet Ishmael and Prophet Isaac are not merely stylistic variations but reflect the Qura’nic worldview that integrates moral excellence and knowledge as the ideal qualities of prophethood. Keywords: Izutsu’s Semantics, ḥalīm, ‘alīm, Prophet Ishmael, Prophet Isaac. Abstrak: Penelitian ini mengkaji perbedaan makna lafaz ḥalīm dan ‘alīm dalam ungkapan ghulāmun ḥalīm (QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 101) dan ghulāmun ‘alīm (QS. al-Ḥijr [15]: 53) menggunakan pendekatan semantik Al-Qur’an menurut Toshihiko Izutsu. Permasalahan penelitian berangkat dari penggunaan dua sifat yang berbeda dalam penyampaian kabar gembira kepada Nabi Ibrahim a.s. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan melalui tahapan makna leksikal, semantik historis (pra-Qur’ani, Qur’ani, dan pasca-Qur’ani), makna relasional (sintagmatik dan paradigmatik), hingga rekonstruksi weltanschauung Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafaz ḥalīm berpusat pada konsep pengendalian diri, kematangan akal, dan keteguhan menghadapi ujian, sedangkan lafaz ‘alīm berpusat pada konsep keluasan ilmu, pemahaman terhadap hakikat sesuatu, serta kebijaksanaan dalam menetapkan keputusan. Analisis historis menunjukkan bahwa Al-Qur’an mempertahankan makna dasar kedua lafaz yang telah dikenal masyarakat Arab, kemudian mengarahkannya ke dalam sistem nilai tauhid. Adapun analisis relasional memperlihatkan bahwa ḥalīm membentuk jaringan makna dengan ṣabr dan ghafūr, sedangkan ‘alīm berelasi dengan ḥakīm dan khabīr. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan penyifatan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq bukan sekadar variasi bahasa, melainkan representasi pandangan dunia Al-Qur’an tentang integrasi akhlak dan ilmu sebagai karakter ideal seorang nabi. Kata Kunci: Semantik Izutsu, ḥalīm, ‘alīm, Nabi Ismail, Nabi Ishaq

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

alyasini

Publisher

Subject

Description

Focus and Scope Al Yasini: Jurnal Keislaman, Sosial, Hukum dan Pendidikan adalah jurnal akses terbuka yang berdedikasi untuk mempublikasikan riset multidisiplin dan interdisipliner dengan fokus pada integrasi nilai-nilai keislaman, dinamika sosial, pembaruan hukum, dan inovasi pendidikan. Jurnal ini ...