Penyelenggaraan event MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) berbasis budaya berskala besar memerlukan manajemen operasional yang terintegrasi untuk menjamin efektivitas penyelenggaraan sekaligus keberlanjutan dampak ekonomi dan destinasi. Artikel ulasan ini menganalisis secara kritis siklus manajemen Solo International Performing Arts (SIPA) di Surakarta yang mencakup fase pra-acara, pelaksanaan, dan pasca-acara. Kajian menggunakan pendekatan ulasan event kualitatif melalui analisis dokumentasi laporan penyelenggaraan, arsip media, dan observasi deskriptif lintas periode untuk merekonstruksi pola operasional SIPA. Hasil kajian menunjukkan bahwa fase pra-acara ditopang oleh pengelolaan jejaring delegasi internasional, kurasi pertunjukan, serta pemanfaatan Benteng Vastenburg sebagai ruang warisan budaya yang diadaptasikan terhadap kebutuhan penyelenggaraan modern. Pada fase pelaksanaan, integrasi show management dan crowd management menjadi faktor utama dalam menjaga kelancaran pertunjukan, sementara keterlibatan UMKM memperluas distribusi manfaat ekonomi lokal. Pada fase pasca-acara, strategi penutupan dan komunikasi destinasi memperkuat posisi SIPA sebagai instrumen destination branding Surakarta. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan event budaya berskala internasional bergantung pada integrasi manajemen operasional, pemanfaatan warisan budaya, partisipasi ekonomi lokal, dan strategi branding destinasi dalam satu siklus pengelolaan event yang berkelanjutan
Copyrights © 2026