Perkembangan epistemologi modern telah menghasilkan kemajuan yang sangat besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama menyisakan persoalan mendasar mengenai sumber, batas, nilai, dan tujuan pengetahuan. Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi pendidikan Islam ketika paradigma ilmiah modern dipindahkan ke dalam praktik pendidikan tanpa disertai pemeriksaan terhadap asumsi ontologis dan aksiologis yang mendasarinya. Artikel ini bertujuan menganalisis kritik Islam terhadap epistemologi modern dan merumuskan model epistemologi kritis-integratif yang relevan bagi pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis filosofis-hermeneutis. Sumber primer mencakup karya Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Mulyadhi Kartanegara, dan pemikir terkait; sumber sekunder mencakup artikel ilmiah mengenai epistemologi Islam, integrasi ilmu, sekularisasi, dan pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: pemetaan konsep, kritik komparatif, dan sintesis konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan utama epistemologi modern bukanlah penggunaan rasio, observasi, atau eksperimen, melainkan kecenderungan mengubah metode ilmiah menjadi klaim filosofis yang membatasi pengetahuan pada realitas empiris, memisahkan fakta dari nilai, serta menyingkirkan dimensi transendental dari struktur ilmu. Kritik Islam terhadap kondisi tersebut diarahkan pada sekularisme epistemologis, reduksionisme materialistik, fragmentasi pengetahuan, dan desakralisasi ilmu. Artikel ini menemukan bahwa epistemologi Islam lebih tepat dipahami sebagai paradigma integratif yang mengakui wahyu, akal, indera, pengalaman, dan intuisi dalam fungsi epistemologis yang berbeda, di bawah orientasi tauhid dan adab. Kebaruan artikel terletak pada perumusan model kritis-integratif yang menghubungkan kritik filosofis terhadap epistemologi modern dengan tiga agenda pendidikan Islam: rekonstruksi sumber pengetahuan, integrasi metodologi, dan orientasi etis-transendental. Model ini menempatkan pendidikan Islam bukan sebagai arena penolakan terhadap modernitas, tetapi sebagai ruang seleksi, koreksi, integrasi, dan pengarahan ilmu menuju kemaslahatan.
Copyrights © 2026