Perubahan lingkungan kerja modern mendorong organisasi untuk menempatkan kesejahteraan psikologis karyawan sebagai bagian penting dari keberlanjutan kinerja. Artikel ini bertujuan menganalisis relevansi etika kebajikan Aristoteles terhadap psychological well-being karyawan dalam perspektif Psikologi Industri dan Organisasi. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah karya mengenai eudaimonia, kebajikan moral, psychological well-being, pekerjaan bermakna, keadilan organisasi, dukungan sosial, dan intervensi psikologi positif di tempat kerja. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui identifikasi konsep, perbandingan gagasan, dan sintesis hubungan antara etika kebajikan dengan enam dimensi psychological well-being Ryff. Hasil kajian menunjukkan bahwa eudaimonia memiliki kesesuaian dengan kesejahteraan yang berorientasi pada keberfungsian optimal, tujuan hidup, pertumbuhan pribadi, otonomi, penguasaan lingkungan, penerimaan diri, dan hubungan positif. Kebijaksanaan praktis mendukung pengambilan keputusan yang etis, keberanian memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan dilema, pengendalian diri membantu regulasi emosi serta pencegahan kelelahan, sedangkan keadilan membangun kepercayaan dan rasa aman dalam organisasi. Penerapan kebajikan melalui kepemimpinan, kebiasaan kerja, sistem penghargaan, pengembangan karier, dan budaya yang bermakna berpotensi meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas kinerja. Kajian ini menegaskan bahwa psychological well-being tidak cukup dibangun melalui program sesaat, tetapi memerlukan karakter individu dan struktur organisasi yang konsisten mendukung kehidupan kerja yang baik. Kerangka ini memberi dasar konseptual bagi praktik manajemen sumber daya manusia yang lebih humanis, etis, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan manusia.
Copyrights © 2026