Keterampilan berpikir kritis merupakan kompetensi abad yang penting dikuasai siswa, terutama dalam pembelajaran fisika, namun data PISA menunjukkan capaian literasi sains siswa Indonesia masih tergolong rendah, yang mengindikasikan lemahnya kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran fisika konvensional yang berpusat pada guru dan menekankan hafalan diduga menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut. Penelitian eksperimen semu ini bertujuan membandingkan efektivitas model Problem Based Learning (PBL) berbantuan Blended Learning, model PBL, dan model Inquiry Terbimbing dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah one way pretest-posttest non-equivalent control group design dengan 106 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Seririt yang dipilih melalui simple random sampling berbasis kelas dari populasi 177 siswa (SEP = 3,03%). Data dikumpulkan menggunakan tes esai berpikir kritis 12 butir berdasarkan enam dimensi Ennis, dianalisis secara deskriptif serta ANAKOVA satu jalur dengan kovariat skor pretest, dilanjutkan uji LSD. Hasil menunjukkan pengaruh signifikan model pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis siswa (F* = 50,122; p < 0,001; partial η² = 0,496, kategori besar; adjusted R = 0,672), dengan kelompok PBL Berbantuan Blended Learning memperoleh rata-rata terestimasi tertinggi (76,99), diikuti PBL (67,04) dan Inquiry Terbimbing (61,66), yang seluruhnya berbeda signifikan satu sama lain, sehingga model ini layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran fisika abad ke-21.
Copyrights © 2026