Ruptur perineum merupakan salah satu komplikasi persalinan pervaginam yang berkontribusi terhadap morbiditas ibu postpartum. Di Indonesia, ruptur perineum terjadi pada sekitar 75% ibu bersalin pervaginam, baik akibat robekan spontan maupun episiotomi, dengan komplikasi berupa infeksi luka jahitan 5%, perdarahan 7%, dan kematian ibu postpartum 8%. Tujuan melaksanakan asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care) pada Ny. E usia 24 tahun G1P0A0 dengan ruptur perineum derajat II di PMB Sartika Manurung, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan Tahun 2026 dengan pendekatan tujuh langkah Helen Varney dan pendokumentasian SOAP. Metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan Continuity of Care. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi sejak Agustus 2025 sampai Januari 2026. Hasil pada masa kehamilan trimester II–III (3 kali kunjungan ANC) ditemukan keluhan sering miksi dan edema ekstremitas yang tertangani melalui pendidikan kesehatan. Persalinan berlangsung spontan pervaginam pada 15 Desember 2025 pukul 00.15 WIB dengan tindakan episiotomi karena perineum kaku, mengakibatkan ruptur perineum derajat II yang segera dijahit. Bayi perempuan lahir hidup dengan APGAR 9 dan berat 3.500 gram. Masa nifas (4 kunjungan) dan bayi baru lahir (3 kunjungan) berlangsung normal tanpa komplikasi; ibu memilih KB suntik 3 bulan. Kesimpulan penerapan asuhan kebidanan berkelanjutan berbasis 7 langkah Varney efektif mendukung deteksi dini komplikasi, penyembuhan luka perineum, dan menjaga kesehatan ibu serta bayi.
Copyrights © 2026