Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang paling sering dialami wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab utama gangguan aktivitas belajar mahasiswi. Prevalensi global mencapai lebih dari 90% populasi wanita, sedangkan di Indonesia mencapai 64,25%. Faktor internal maupun eksternal berperan dalam menentukan tingkat keparahan nyeri, namun bukti empiris pada mahasiswi semester akhir yang menghadapi tekanan penyelesaian tugas akhir masih terbatas. Tujuan menganalisis hubungan aktivitas fisik, stres, usia menarche, dan status gizi dengan tingkat nyeri dismenore serta mengidentifikasi faktor paling dominan. Metode penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional pendekatan cross-sectional. Sampel 60 mahasiswi semester akhir Institut Kesehatan Immanuel Bandung diambil menggunakan proportional random sampling dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner IPAQ, DASS, penilaian IMT, dan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Spearman Rank, dan multivariat menggunakan regresi linear berganda. Hasil sebanyak 35% responden mengalami nyeri berat. Uji Spearman menunjukkan hubungan bermakna pada stres (p<0,001; r=0,425) dan status gizi (p=0,040; r=0,266), sedangkan aktivitas fisik (p=0,112) dan usia menarche (p=0,816) tidak bermakna. Regresi linear berganda mengonfirmasi stres (β=0,397; p=0,002) sebagai faktor paling dominan, diikuti status gizi (β=0,238; p=0,048). Simpulan stres merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat nyeri dismenore. Intervensi keperawatan berfokus pada manajemen stres akademik dan optimalisasi status gizi direkomendasikan untuk menurunkan keparahan dismenore pada mahasiswi semester akhir.
Copyrights © 2026