Dai harus membentuk brand pada dirinya agar menimbulkan citra positif di benak mad’u. Sehingga bisa terbentuk kepercayaan antara dai dengan jamaahnya, menimbulkan kesan yang mendalam hingga melekat pada benak mad’u serta dapat menarik banyak orang. Semakin brandingnya positif semakin efektif mencapai tujuan dakwah. Di tengah banyaknya dai-dai baru yang terus bermunculan, Fahruddin Faiz hadir dengan membawa identitas sebagai ustaz filsafat. Belum ada dai lain yang menggunakan identitas tersebut. Apalagi secara umum, umat Islam tidak akrab dengan kajian filsafat. Namun, brand ustaz filsafat yang melekat pada Fahruddin Faiz bernilai positif bagi mad’u. Maka, kehadiran Fahruddin Faiz ini menjadi angin segar bagi panggung dakwah tanah air. Artikel ini hendak menjelaskan personal branding ustaz Fahruddin Faiz. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data-data terkait ustaz Fahruddin Faiz yang diperoleh dari sumber pustaka dan dokumen video dianalisis menggunakan Teori Personal Branding yang digagas Peter Montoya. Hasil yang ditemukan, ustaz Fahruddin Faiz memiliki kompetensi di bidang filsafat dan pemikiran Islam, kemampuan memberikan pemecahan masalah melalui pendekatan filsafat, kepribadian yang tenang, keunikan brand yang belum dimiliki dai lain, image sebagai ustaz filsafat yang jelas terlihat masyarakat, moralitas baik sesuai brandnya, dan konsisten pada brand yang sudah dibuat.
Copyrights © 2026