Tahun pertama perkuliahan merupakan periode paling rentan bagi terbentuknya niat meninggalkan studi, namun perhatian institusional di Indonesia masih lebih banyak diarahkan pada penanganan administratif setelah mahasiswa dinyatakan putus kuliah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan sosial kampus dengan intensi putus kuliah pada mahasiswa tahun pertama, serta merumuskan implikasinya bagi penyelenggaraan intervensi krisis di perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan desain sekuensial eksplanatoris. Tahap kuantitatif melibatkan 214 mahasiswa tahun pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia Maluku yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling, dengan instrumen adaptasi Multidimensional Scale of Perceived Social Support, Skala Dukungan Sosial Kampus, Skala Rasa Memiliki Institusional, dan Skala Intensi Putus Kuliah. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial kampus berhubungan negatif secara signifikan dengan intensi putus kuliah, dan pengaruhnya sebagian dimediasi oleh rasa memiliki institusional. Dukungan yang bersumber dari dosen pembimbing akademik dan teman sebaya terbukti lebih kuat memprediksi rendahnya intensi putus kuliah dibandingkan dukungan keluarga. Temuan kualitatif memperlihatkan bahwa krisis mahasiswa tahun pertama umumnya bersifat majemuk, muncul mendadak, dan ditangani secara improvisatif karena kampus belum memiliki kanal krisis yang terstruktur. Penelitian ini menawarkan model intervensi krisis kampus berlapis yang mengintegrasikan deteksi dini, respons cepat, pendampingan, dan rujukan, serta memanfaatkan modal sosial kolektif masyarakat Maluku sebagai basis dukungan sebaya yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026