Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya penggunaan bahasa Jawa Krama dan pemahaman terhadap pakaian adat di kalangan generasi muda, yang berisiko mengikis nilai-nilai luhur budaya. Pendidikan anak usia dini menjadi momentum strategis untuk menanamkan kembali nilai-nilai tersebut sekaligus menumbuhkan sikap toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan sikap toleransi anak sebagai hasil dari pembiasaan bahasa Jawa Krama dan pakaian adat lurik di RA Miftahul Huda Gerih, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian adalah anak-anak kelompok B (usia 5-6 tahun), kepala sekolah, dan guru kelas. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) Strategi penerapan bertumpu pada tiga pilar utama: keteladanan dari guru, integrasi ke dalam seluruh rutinitas harian, dan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan filosofi pakaian adat dengan kegiatan anak. (2) Pembiasaan budaya dengan perkembangan sikap toleransi anak, termanifestasi pada ranah kognitif (memahami perbedaan), afektif (meningkatnya empati), dan behavioral (perilaku pro-sosial seperti berbagi dan bekerja sama). (3) Faktor pendukung utama adalah komitmen dan konsistensi pendidik, sedangkan faktor penghambat utama adalah adanya diskoneksi antara lingkungan sekolah dengan lingkungan rumah dan pengaruh media digital.
Copyrights © 2026