Penelitian ini bertujuan menguji konseling multikultural sebagai upaya pencegahan intoleransi di lingkungan sekolah. Dengan menggunakan pendekatan mixed-methods, penelitian melibatkan 12 siswa dari SMP Negeri 4 di Camplong dengan pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan penurunan signifikan tingkat intoleransi pasca intervensi pada indikator prasangka (dari 3.8 menjadi 2.4), ketidaknyamanan interaksi (3.5 menjadi 2.1), dan dukungan kebijakan diskriminatif (3.2 menjadi 1.9) dengan p<0.01. Analisis ANOVA mengungkap proyek kolaborasi antarkelompok sebagai metode paling efektif (F=12.45; p<0.001), diikuti simulasi konflik dan sesi kelompok. Temuan kualitatif menunjukkan peningkatan empati, pengurangan stereotip, dan kesediaan berinteraksi lintas budaya. Penelitian ini memperkuat integrasi Teori Konseling Multikultural Wing Sue & Sue, 2008 dan Teori Sosial Durkheim, sekaligus menegaskan pentingnya dukungan guru BK dan lingkungan sekolah inklusif sebagai faktor pendukung. Implikasi praktisnya mencakup rekomendasi pengintegrasian modul konseling multikultural berbasis proyek kolaboratif dalam kurikulum bimbingan konseling sekolah.
Copyrights © 2025