Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna sejarah dalam perspektif filsafat dengan menyoroti ketegangan dialektis antara determinisme dan kebebasan kehendak manusia. Kajian ini berangkat dari asumsi bahwa sejarah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai rangkaian peristiwa yang ditentukan oleh hukum kausalitas, struktur sosial, atau kekuatan transenden, melainkan juga sebagai hasil dari tindakan reflektif dan pilihan bebas manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-analitis, melalui penelusuran dan analisis kritis terhadap pemikiran filsafat modern, kontemporer, serta perspektif keislaman mengenai sejarah, kebebasan, dan tanggung jawab moral. Hasil kajian menunjukkan bahwa determinisme, baik dalam bentuk kausal, historis, maupun teknologi, cenderung mereduksi peran manusia sebagai subjek sejarah. Sebaliknya, filsafat modern, eksistensialisme, pemikiran postmodern, filsafat bahasa, dan doktrin Qadar dalam Islam menawarkan kerangka sintesis yang menegaskan kebebasan sebagai syarat fundamental bagi makna, moralitas, dan tanggung jawab historis. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa makna sejarah lahir dari dialektika dinamis antara batas-batas struktural dan kebebasan manusia, sehingga sejarah dipahami sebagai proyek terbuka yang terus direkonstruksi melalui refleksi dan tindakan manusia.
Copyrights © 2026